Posted in Sharing

Happy Anniversary

Eh udah dua tahun ya blog ini berdiri?!

Terharu :’) gak sadar ternyata uda lama juga :p

Tadi pagi Dapat pesan dari mimin WordPress, ngucapin happy anniversary yang kedua dan bilang keep up blogging.

Aizz, jadi malu selama kurun waktu dua tahun ini cuma ngepost 29 kali :p

Sangat tidak produktif. ckckckck

 

Anyway sepertinya bakalan lebih sering ngepost tentang flash fiction, berhubung bingung ngepost apa terus suka ikutan kuis flash fiction juga sih.

Itung-itung sambil nyelam minum air lah. Hohohoo

Ok, Let see what happen year later with this blog. 😀

Cheers^^

Posted in Flash Fiction, Karyaku

[BeraniCerita #2] Lipstik Merah

“Millaaaa, gimana ini? Apa yang harus Gue lakukan? Lima menit lagi dia pasti akan datang!!” Teriakku histeris sambil berkeliling ruangan,mengacak-acak ruang tamu apartemen kecilku. Sengaja menaruh bungkus-bungkus rokok dan sampah makanan di sekitar meja. Aku ingin menunjukkan bahwa aku tak sesempurna yang ia – yang sebentar lagi datang- pikirkan.

“Relax Reb, tarik napas, keluarkan.” Jawabnya santai sambil menonton gossip.

“Ya ampun Mil, Gimana gue bisa santai coba. Gosh!! Coba Loe diposisi gue! Loe dikirimin surat oleh seseorang yang loe gak tau siapa? Bahkan Jenis kelaminnya saja loe gak tau!“

“Kalau kata gue sih dia cewek, secara surat yang dia kirimin bercap bibir lipstik merahnya. Kemungkinan dia cowok sih 1%. Masa ada cowok yang pake lipstik merah gitu? Cowok apa coba yang pake lipstik? Kalau itu emang cowok gak mungkin dia suka ama cewek.”

Aku mendelik pada Mila, bergidik membayangkan bahwa pengagum rahasiaku adalah seorang cewek. Aku sudah menghapalkan kata-kata yang harus aku ucapkan untuk menolak ajakan pada surat terakhir yang dia kirimkan.

Rebeka, aku tak mau hanya mengagumi dari jauh lagi. Aku ingin mengenalmu lebih jauh. Aku akan datang ke rumahmu jam 19.00 besok.

Pengagum rahasiamu yang jatuh cinta padamu pada pandangan pertama. TK.

Merinding mengingat paragraph terakhir suratnya plus lipstik merah tersebut. Dalam angan terliar sekalipun tak pernah aku membayangkan seorang wanita menyatakan cintanya padaku. OMG!!

Ting tong..

Suara Bel mengagetkanku. Aku terkesiap, menatap Milla. Diapun tak kalah terkejutnya. Dia Menepuk punggungku pelan sambil mengarahkan matanya pada pintu. Aku menarik nafas. Melangkahkan kakiku membuka pintu.

Makino Kurosawa? Aku menahan nafasku. Pikiranku buntu. Tak terpikirakan olehku sebelumnya. Aku mengerti sekarang, mengapa cap bibir itu begitu familiar bagiku. Kenapa aku tak mengingat sama sekali. Aku merutuki diriku sendiri. Mengapa aku bisa lupa dengan seorang penulis novel yang paling aku kagumi. Dia yang halaman depan novelnya selalu bercapkan bibir. Dia yang pernah mengirimiku balasan surat dengan kertas bercap bibir 10 tahun lalu, kepada semua fansnya.

Oh Tuhan kenapa harus dia yang menjadi pengagum rahasiaku? Aku mengagumi dia sebagai novelis. Dan aku malah menjadi pengagum rahasia adiknya. Adiknya yang baru datang dari Jepang. Aku pernah melihatnya beberapa kali saat manggung.

“Hai, Re.. Bolehkah kami masuk?” Tanyanya dengan senyum manisnya. Kami? Aku bingung. Dengan kikuk aku membuka pintu lebih lebar dan aku melihat seorang pria disampingnya. Toru Kurosawa.

OMG! Aku langsung mengingat surat yang dikirim padaku. Surat yang berinisial TK. Bukan MK.

“Silahkan masuk.” Tenggorokan serasa kering. Aku tak tahu apa yang harus aku tanyakan terlebih dahulu. Hapalanku buyar sudah.

“Kenapa Toru nulis surat dengan sign bibir lipstik merah?” tanyaku dalam hati

Oh, pasti yang nulis adalah Makino yang kebiasaan ngebalas surat ke fans dengan sign bibir, Toru kan gak bisa bahasa Indonesia.” Jawab otakku spontan. Makanya Makino juga datang hari ini. Terus kenapa gak pake bahasa Inggris? Dia gak bisa bahasa Inggris? Terus kenapa pake surat segala? Masih jaman pake surat? Kenapa…

“Wow…” Suara Toru mengagetkanku. Aku mentapnya. Dia memandang ke dalam ruangan melalui pundakku. Aku bingung, lalu berbalik. Oh Tuhan, mau ditaruh dimana wajahku??

 

 

“Flash Fiction ini disertakan dalam Giveaway BeraniCerita.com yang diselenggarakan oleh Mayya dan Miss Rochma.”

Posted in Flash Fiction, Karyaku

[BeraniCerita #1] Surat Merah Jambu

Aku melangkah ke depan Altar, menahan haru. Kesedihan dan Kebahagian bercampur menjadi satu. Aku tak tahu mengungkapkannya. Bagaimana cara mengungkapkannya selain dengan air mata? Tapi tidak mungkin. Jikalau aku menangis sekarang, mungkin aku akan menjadi pengantin wanita yang paling jelek saat melakukan prosesi pernikahan dan yang paling buruk adalah pengantin prianya akan lari. Tapi aku yakin opsi terakhir tak mungkin. Aku sangat yakin Matthew tak akan pernah meninggalkanku karna hal ini, karena dia pernah melihat aku dalam kondisi yang paling buruk alias jelek banget nget.

Aku melangkah semakin mendekat ke altar yang entah mengapa serasa berjarak 10 km padahal jaraknya hanya 30 meter. Aku melangkah beriringan dengan langkah ayah angkatku, sementara tanganku yang lain, yang bebas, serasa ada yang menggengam. Tangan yang tak kasat mata, tapi aku tahu pasti. Dia pasti selalu ada.

Aku menyerap, mengingat kembali surat merah jambu yang aku baca tadi di mobil yang mengantarku ke Gereja.

Dear, My Sweetie..

Sebelumnya, selamat kamu akan menikah hari ini. Maaf aku tak bisa menepati janjiku. Maaf aku bukanlah orang yang ada disampingmu saat kamu mengucapkan janji pernikahnmu. Maaf aku tak bisa melakukan apa yang seharusnya harus aku lakukan.

Sekarang kamu tidak butuh pria seperti aku lagi kan? Sekaranglah saatnya kamu melepaskan aku. Biarlah aku menjadi kenangan saja. Biarlah sekarang dan seterusnya suamimulah yang menjadi penguat bagimu.

Hiduplah dengan bahagia There. Semoga kamu menjadi seorang istri dan ibu yang terbaik di dunia.

Salam dari surga, your best man. Stephen.

PS : Ini surat terakhirku untukmu, Ingat I’m always with you, sweetie, although you can’t see me anymore.  And I bet you’re not crying this time when read my letter. 

Surat terakhir dari Stephen. Selama delapan tahun ini dia selalu memberi aku surat, surat yang telah dia persiapkan dihari-hari terakhirnya. Suratnya selalu ada di hari ulang tahunku, hari valentine, natal, dan dihari-hari tak terduga. Aku tak tahu siapa yang mengirimnya. Biarlah, aku tak perlu tahu. Total 40 surat plus satu surat terakhir ini. Ke-40 Surat merah jambu tersebut sudah lecek, karena berulang kali sudah aku baca dan air mataku selalu mengalir membanjiri surat tersebut.

Kamu benar Stephen, aku tak menangis membaca suratmu kali ini. Aku bahagia. Aku tertawa. Karena..

“Saudari Theresa Manissa, maukah saudari menerima Matthew Lim sebagai suami yang dijodohkan oleh Tuhan didalam pernikahan yang kudus? Maukah saudari mengasihi dia, menghibur dia, menghormati dan memelihara dia baik pada waktu sakit maupun pada waktu dia sehat, serta melupakan orang lain tetapi hanya mengasihi dia saja, selama saudari berdua hidup didunia ini?”

Stephen. Melupakan Stephen? Aku mematung. Tangan Matthew Menyentuhku dengan lembut. Aku melihatnya, matanya bertemu denganku. Seketika aku sadar, aku tak perlu melupakan Stephen, karena Stephen adalah aku, aku adalah dia. Karena dia ada di dalam aku, aku melihat dunia dengan mata yang dia beri. Aku terlahir di dunia dengan memegang erat tumitnya, aku belajar berjalan dengan mengengam tangan kecilnya. Kami tak akan terpisahkan, walau dia tidak lagi di dunia ini, tapi dia ada dihatiku.

“Ya, saya mau.” Jawabku dengan mantap.

“Flash Fiction ini disertakan dalam Giveaway BeraniCerita.com yang diselenggarakan oleh Mayya dan Miss Rochma.”

Posted in Flash Fiction, Karyaku

Double Surprise

Apa sih hal romantis yang kamu harapkan lagi dihari Valentine kalau seorang pria yang telah kamu pacari selama lima tahun melamarmu? Semuanya sudah menjadi paket lengkap, surprise yang amat sangat sempurna ditambah cincin bermata berlian kecil yang indah di jari manisku.

Bahagia. Sangat. Aku tak mampu mengungkapkannya dengan kata-kata. Selama lima tahun ini aku tak tahu hubungan kami mau dibawa kemana. Aku hanya tahu kami saling mencintai. Tapi tak ada tanda-tanda dia pernah mau menikahiku.

“Len, kamu mau ngapain dihari Valentine ini?” Tanya mas Sakti tiba-tiba minggu lalu saat menjemputku pulang dari kantor.  Aku melihatnya, menimbang-nimbang.

“Aku pengen berada di tempat dengan suasana yang sangat romantis terus dilamar pangeran berkuda putih.” Jawabku penuh makna.

“Kamu ini, aku serius lho.” Jawabnya sambil serius mengemudi mobil.

“Hehehe… gak ada. Lagian sama aja kan hari valentine sama hari-hari yang lain. Gak ada bedanya. Menurutku setiap sama mas adalah hari Valentine.”

Aku melihatnya penuh arti. Tampaknya dia sedang berpikir terlalu keras. Bukan konsen mengemudi tapi hal lain.

“Aku takut kalau kamu tahu, pasti kamu akan meninggalkanku.”

“Apa mas?” Tanyaku bingung.

“Ah? Kita mau dinner dimana ini Len?” Dia mulai mengalihkan pembicaraan.Aku sudah paham sifatnya, kalau dia mengalihkan pembicaraan berati dia tidak ingin memperpanjang pembicaraan. Itu hari terakhir kami bertemu. Dan sekarang dia melamarku di hari valentine. Sungguh aku tak mengira aku bakal dilamar.

“Sudah sampai.” Lamunanku buyar sudah.

“Kita dimana sih mas?” Tanyaku bingung. Setelah selesai acara ber-romantis ria dan lamar-melamar, dia membawaku ketempat ini. Rumah kecil namun indah dengan pekarangan yang terawat rapi.

“Aku ingin mengenalkan seseorang padamu. Hmm.. dua orang lebih tepatnya.” Jawabnya

Aku melihat seorang wanita yang sedang melamun duduk di teras, parasnya cantik. Tapi sepertinya ada yang aneh, aku tak tahu apa. Tapi tampak pikirannya melayang, bukan hanya sekedar melamun.

“Papa….” Sambut seorang anak kecil begitu kami keluar dari mobil. Aku shock. Papa? Apa maksudnya? “Mama, sedang menunggu papa dari tadi tuh..” sambungnya sambil menunjuk pada wanita yang melamun tersebut namun sekarang ada seulas senyum mengambang diwajahnya.

Posted in Sharing

a little prayer

It’s midnight now, don’t know what happened with me. I feel something wrong with my body.

God, please bless me, My guardian Angels and patron saint, please pray and protect me.

Mary, mother of God.. Please Pray for me

Posted in Flash Fiction, Karyaku, Sharing

My Lovely John

“Ok, John.. Aku tak akan mendekatinya lagi” Aku mendelik pada John yang dari tadi sudah merasa tak nyaman. ”Bye Felix, aku balik duluan ya. Ayo John.” Pamitku sambil berjalan pulang bersama John disisiku. Aku mengerti sekali sifat posesif John, dia takut aku berpaling darinya. Terlalu posesif, tapi ini semua karna masa lalunya.

Aku masih ingat dua tahun yang lalu saat bertemu dengannya. Maris, Teman dekatku yang mengenalkannya denganku. Saat pertama melihatnya, aku langsung jatuh cinta. Raut wajahnya begitu menggemaskan namun seperti mendamba cinta. Aku serasa tersihir oleh kehadirannya yang membuatku nyaman.

Aku selalu ingin bertemu dengannya. Setiap pulang sekolah pasti selalu mampir ke rumah Maris untuk bertemu dengan John yang untuk sementara tinggal bersama Maris. Setelah beberapa minggu berlalu akhirnya mama menyadari tingkah anehku yang selalu ke rumah Maris sepulang sekolah.

Kemudian aku menceritakannya pada mama dan meminta izin supaya John boleh tinggal dirumah. Awalnya mama sangat melarang, tapi karena aku memohon-mohon akhirnya diperbolehkan. Dan sekarang semua orang dirumah sangat mencintainya. Kehadirannya membuat rumah semakin semarak. Ternyata bukan aku saja yang tersihir tapi Mama dan Papa juga. Aku senang, awalnya aku merasa was-was kalau-kalau kehadirannya membuat papa dan mama tidak nyaman.

Menurutku seharusnya John sudah tidak kekurangan cinta lagi, seharusnya dia tidak posesif lagi. Mungkin pengalaman dibuang oleh tuannya semulalah yang membuatnya seperti ini. Atau memang sudah bawaannya aku pun tak tahu.

“John, bagaimana jalan-jalanmu hari ini?” Sapa Papa begitu melihat kami memasuki  pekarangan rumah. Papa mengusap-usap kepala John dengan lembut dan John membalasnya dengan gong-gongan halus.

Posted in Karyaku, puisi

Aku

Aku?

Aku tak cukup cerdas untuk memahami logikaku

Aku?

Aku tak sanggup bijak untuk mengikuti kata hatiku

Lalu

Aku ini apa?

Aku adalah aku dengan kecerdasan dan kebijakan yang seaku

ya!

aku adalah aku

Tak lebih tak kurang