Posted in Karyaku

L & R

Aku adalah orang yang terluka karena cinta. Luka itu telah tertoreh dalam sehingga tak seorang pun sanggup untuk mengobatinya. Aku hanya tahu bagaimana cara membalas dendam terhadap cinta.
Dia adalah orang yang terluka karena uang. Baginya uang telah membuat harga dirinya hilang, seakan dia tidak memiliki harga lagi. Kini ia hanya tahu bagaimana menghamburkan uang, menjadikannya seakan tak bernilai. Sampah.
“Sedang memikirkan apa?” Tanyaku setelah beberapa menit tak ada suara. Desahan maupun gumaman. Dia melirikku, kemudian memutar badannya kesamping hingga berhadapan denganku. Aku mengikutinya, hingga kami berhadapan satu sama lain. Kami saling menatap. Hanyut dikedalaman mata lawan masing-masing.
“Tak penting.” Katanya akhirnya. Ia beranjak dari ranjang. Mulai menggenakan pakainnya satu persatu yang tersebar di lantai. Aku mengawasinya. Kepalaku bertopang pada tanganku.
“Kalau kamu masih mau di sini silahkan. Atau kamu mau pulang? Biar aku antar sekalian.” Dia melirikku sesaat, kemudian melanjutkan mengenakan pakaiannya.
“Kita makan dulu gimana? Di emperan jalan yang masih buka. Aku tiba-tiba lapar sehabis ‘olahraga’ tadi.” Aku tersenyum sambil menggerakkan kedua jari telunjuk dan tengahku, seperti membuat tanda kutip.
“Aku tidak lapar.”
“Aku tidak tanya kamu lapar atau gak. Kamu temani aku aja. Keberatan?”
“Aku heran kemana semua makanan yang kamu makan itu. Makan banyak tapi badan gak berubah sama sekali.”
“Hilang begitu saja, terlalu banyak olahraga sepertinya.” Aku mengedipkan mataku. Dia hanya menggeleng-geleng kepala mendengar jawabanku yang asal.

***

“Mas pesen nasi goreng special satu, porsinya jangan porsi cewek loh ya mas. Minumnya es jeruk. Kamu apa?”
“Es jeruk aja mas.” Jawabnya langsung ke si pedagang. Lalu kami duduk di pojokan, sudah larut malam begini masih ramai saja angkringan di jalanan ini. Mata beberapa orang mengikuti kami. Tak heran, kami sepertinya salah kostum untuk hanya makan malam dipinggiran jalan.
Aku mengaktifkan ponselku. Aku tak menggrubis pesan-pesan yang masuk. Namun beberapa menit kemudian panggilan masuk. Wido.
“Apa lagi?” Jawabku to the point.
“Kemaren gue kan udah jelasin semuanya. Kita gak perlu ketemu, gak ada yang harus dijelasin lagi.” Aku mendesah sebal sambil memutar mataku.
“Kalimat mana yang gak jelas? Kalo gue gak mau nikah sama lu? Atau kalo kita udahan? Ato bagian gue udah bosan?” Aku bersabar sebentar mendengar kata-kata wido.
“Terserah lu deh.” Aku mematikan teleponku.
“Tadi udah checkout ya? Aku nginap di tempatmu ya?” Pintaku melas pada L.
“Si wido udah ngelamar aja? Cepat amat.” Aku mengedikkan bahuku.
“Kamu kapan tobatnya sih R?”
“Kamu juga kapan tobatnya L?” Tanyaku balik, lalu kami tertawa berbarengan. Entah apa yang lucu. Mungkin kami sama-sama menertawakan kehidupan kami. Entahlah. Yang penting kami masih bisa tertawa lepas. Kemudian makanan datang, menghentikan tawa kami yang lepas.
“Terus dia nunggu kamu di apartemen?”
“Ehmm..” Aku menganggukan kepalaku sambil menikmati nasi gorengku.
“Kasian banget sih laki-laki yang pacaran sama kamu R, tiap kali mereka ngelamar, kamu langsung tolak mentah-mentah. Terus bubar gitu aja.”
“Bodo.” Jawabku singkat sambil menelan makanan yang kukunyah.
“Ckckck.”
“Gak usah ngejudge deh. Kita sama ini. Kamu juga malah lebih parah. Sekali pakek langsung buang.”
“Lah kok malah lebih parah? Gak dong. Cewe-cewe itu kok yang pada mau, malah banyakan mereka yang ngajak duluan. No commitment. Gak ada mainin perasaan, nah kamu? Mainin perasaan mereka namanya. Lebih parah dong.”
“Terserah.”
“Anyway ini udah cowok yang keberapa?” Aku menjawabnya dengan mengacungkan jari-jariku sambil menyeruput minuman.
“Tiga?” Tanyanya dengan nada tak yakin yang kujawab dengan anggukan.
“Dua tahun aku kenal sama kamu kayaknya sudah lebih dari empat deh cowok yang kamu buat dunianya jungkir balik. Yang ngedamprat aku aja kayaknya udah ada tiga, belum termasuk si Dodo Dodo yang telepon sama kamu tadi.”
“Wido.” Koreksiku “Yang aku putusin saat ngelamar aku ya tiga orang. Kalo yang belum sempat ngelamar, gak tau deh, malas ngitungnya. Eh bagi minumnya ya.” Aku mengambil gelasnya tanpa menunggu jawabannya.
“Udah yuk balik.” Aku langsung berdiri dan jalan menuju mobilnya, sedang L menuju si penjual nasi goreng untuk membayar tagihan. Aturan nomor satu kalau lagi jalan sama L, jangan pernah bayar apapun kalau gak mau ribut. Kelihatannya dia mendapat kepuasan sendiri tiap kali mengeluarkan uang yang dia miliki.
Sesampainya di rumah L, kami langsung masuk ke kamar masing-masing setelah memberi salam selamat malam. Badanku rasanya pegal sekali, setelah seharian berpergian meeting sana-sini. Aku mengganti dress kerjaku dengan baju yang biasa kupakai tidur bila di rumah L. Rumah L begitu besar, tapi hanya ditempati seorang diri. Pembantunya hanya datang untuk membersihkan dan membereskan rumah, kemudian langsung pulang. Dari empat kamar yang ada, selain kamar utama milik L, kamar ini seperti ada pemiliknya, aku. Kalau dihitung-hitung mungkin aku kerumahnya hanya sekali dalam tiga bulan, itupun karena terpaksa. Biasanya kalau lagi mau menghindar dari mantan yang keras kepala. Selebihnya aku dan L ketemu di mall, café, resto atau yang paling sering di hotel.
Maka dari itu tak ada satupun barang kepunyaanku tinggal disini, termasuk baju. Aku selalu memakai kemeja L yang telah aku ambil alih kepemilikannya. Begitu aku mengenakan kemeja yang kebesaran dibadanku, aku merasakan ketidaknyamanan.
“L…” Aku mengeram sambil berjalan menuju kamar L, mengetuknya.
“Ada apa?” Tanyanya begitu membuka pintu sambil mengenakan baju kaosnya.
“Dicuci ya baju ini?” Tanyaku kesal.
“Ya ampun R. kirain ada apa.” Dia tertawa sambil mengacak-acak rambutku.
“Arhhhh” Kesalku sambil menampis tangannya “Kamu kan tahu, aku paling gak suka pake baju yang baru dicuci kalo mau tidur.”
“Itu udah empat bulan belum dicuci R. Masa mau disimpan mulu.”
“Ya biarin aja L, lagi baru sekali ini aku pake. Terakhir aku pake juga baru dicuci, masa sekarang udah bekas cucian juga.”
“R, R..” dia mencubit pipiku kali ini “Aneh banget sih kebiasaan kamu.”
“Tau ah, besok kalo aku kurang tidur kamu tanggung jawab loh. Besok aku ada meeting penting pagi-pagi”
“Idihhh.. Atau kamu mau pake kemeja aku yang tadi baru aku pake, kan bekas pake tuh.” Tawarnya
“Ogah. Aku maunya yang bekas pake aku aja. Malas banget pake bekas orang.”
“Terus gimana?”
“Gimana kalau kita tidur bareng.” Jawabku tanpa pikir panjang. Aku punya kebiasaan aneh, kalau tidur harus pake baju yang bekas pakai, makin lama makin nyaman dan enak dibawa tidur. Kalau bekas cuci, jangan harap aku bisa tidur pulas. Dan cara lain biar aku bisa tidur pulas adalah tidur dengan orang lain disampingku. Tidur nyaman dipelukan orang sambil mendengar detak jantung dan menghirup aroma tubuhnya. Aneh? Memang.
“R…” L menatapku kaku.
“Ih, tenang aja L. Aku gak akan nerkam kamu kok. Kita cuma tidur bareng aja kok. Gak ngeseks.” Jawabku santai.
“Iya kamu mungkin gak nerkam. Tapi aku cowok normal R. Aku gak mau melanggar komitmen aku sendiri gara-gara hal sepele gini.” Jawabnya
“ya uda deh.” Jawabku lemah sambil berbalik badan menuju kamarku.
Sejam kemudian L mengirim Whatsapp.
Uda tidur?
Belumlah 😥
Aku mendengar suara ketukan dan L memanggil namaku. Aku buka pintu sambil tersenyum manis.
“Aku tidur disini aja deh.” Dia langsung masuk ke kamar dan berbaring tidur.
“Makasih L.” Aku tersenyum senang sambil menutup pintu kamar. Belum juga aku sampai di ranjang suara bel pintu rumah terdengar.
“Siapa yang datang jam segini L?” Tanyaku bingung. L menggeleng dan berjalan menuju ruang depan.
“Risa…” Aku yang awalnya hanya diam dikamar karena mendengar namaku disebut oleh L, langsung menuju pintu depan dan mendapati L sedang dipeluk oleh seorang wanita.
“Risa kamu kenapa?” Terdengar suara L yang lebih lembut bertanya pada perempuan itu. Oh, aku mengerti sekarang yang dipanggil tadi bukan aku tapi Risa, mantannya. Aku terpaku melihat adegan di hadapanku ini. Terkejut.
“Danu, Danu, dia tadi mabuk-mabukan lalu memukulku.” Wanita itu, menjawab kemudian melepaskan pelukannya dari L. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, karena tertutup oleh badan L yang bidang dan tinggi. L mengajak Risa masuk, dan aku melihat wajahnya. wanita itu, yang sanggup membuat L jatuh cinta setengah mati, sangat anggun. Wajahnya manis sekali, bahkan dengan bekas lebam sedikit di pipi kirinya. aku terperanjat, sadar kalau berada di situasi yang canggung. Risa melihatku dari atas sampai bawah, menatapku nanar, kecewa, sedih, terluka dan cemburu? Entahlah yang pasti tidak senang.
“Eh maaf L, tadi aku kira kamu memanggilku.” Aku jadi salah tingkah. “Kayaknya aku mendingan balik aja deh L.”
“Emang kamu mau kemana?” Tanyanya tidak senang “Lagian ini udah malam banget.”
“Gampanglah, bisa ke rumah temen yang lain.” Jawabku asal lalu berbalik badan.
“Gak usah R. Aku aja sama Risa yang keluar. Kamu tetap disini aja.”
Aku terdiam sesaat, terpaku. Menyadari sesuatu. Aku tidak mau dia pergi keluar dengan Risa. Lebih baik aku yang pergi. Tapi terlambat. Begitu aku berbalik dan ingin melarangnya. L telah pergi bersama Risa.

***

Aku dan L bertemu dua tahun lalu. Ketika acara kick off meeting. Perusahaannya adalah rekan bisnis kami. Sebenarnya kami telah sering saling email-emailan ataupun chat di Whatsapp group, tapi belum pernah bertemu. Karena setiap pertemuan yang terjadi dia selalu tidak hadir. Wajar saja, karena dengan posisinya seharusnya memang bukan dia yang turun tangan langsung.
Begitu kami bertemu dan ngobrol, terdapat kecocokan yang aneh. Aneh karena sebenarnya kami begitu berbeda tapi nyaman untuk ngobrol ini itu. Setelah itu setiap ada meeting dia pasti hadir.
“Jangan panggil aku bapak. Terlalu tua” Katanya saat kami ngobrol sehabis meeting bermaksud supaya tidak begitu formal.
“Hmm.. baiklah tapi kalau boleh jujur, saya tidak nyaman manggil Anda Lukas.” Jawabku to the point.
“Wah kenapa? Apa mantan pacar kamu namanya Lukas?” Tanyanya asal.
“Iya.” Jawabku santai, kenapa tebakannya begitu pas. Dia terpaku menatapku sesaat kemudian tertawa. “Aneh sekali. Aku juga punya mantan namanya Risa. Kebetulan yang aneh kan?”
“Woww.. kok bisa kebetulan sekali.” Jawabku setengah terpekik. Tak menyangka.
“Aku juga tidak begitu nyaman memanggilmu Risa.”
“hmmmm, gimana kalau aku panggil kamu L dan kamu panggil aku R.” Tawarku kemudian, dan mulai beraku kamu alih-alih saya Anda.
“Good Idea.”
Begitulah awal kedekatan kami, dari rekan bisnis kemudian menjadi teman. Dan sekarang aku bingung hubungan kami dikategorikan apa. Teman seks? Tapi aku tidak merasa demikian, hubungan kami lebih dari itu.
“Maaf R, aku harap kamu tidak menganggap hubungan kita lebih dari ini.” Katanya dipagi hari saat aku terbangun dipelukannya. Aku yang masih setengah tertidur menatap wajahnya. Rautnya kelihatan serba salah. Aku mengelus wajahnya.
“Tenang L. aku punya pacar kok.” Jawabku santai sambil mengetatkan pelukanku padanya dan terlelap kembali.

***

Sudah sebulan aku dan L tidak berkomunikasi. Selama dua tahun ini, tak pernah seharipun kami lost contact. Memang kalau bertemu langsung hanya tiga sampai enam kali sebulan tapi setidaknya selalu chat atau teleponan. Inilah hal yang aku takutkan ketika itu, ketika L keluar rumah. Aku dan L memiliki commitment yang sama. Tidak akan pernah melakukan seks di rumah masing-masing. Alasannya? Entahlah kami sendiripun tak tahu.
“Aku hanya tidak ingin mengotori apartemenku.” Jawabku saat L menanyakannya.
“Kayak kamu gak kotor aja.” Sindirnya. Aku hanya cengengesan dan bertanya balik.
“Entahlah. Malas aja.” Jawabnya tak jelas.
Hari ini hari sabtu. Dan aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Sebulan ini aku kehilangan fokus. Hampa. Semenjak putus dengan Wido, aku tak berniat lagi menjalin hubungan. Jadilah serasa begitu hampa. Setelah Lukas, tak ada orang lain yang benar-benar begitu aku cintai. Rasanya aku mati rasa. Aku tak tahu lagi arti cinta, lebih tepatnya tidak percaya lagi dengan cinta. Karena sebenarnya diatas cinta tersebut banyak faktor x, y, z yang lebih penting. Seperti uang dan seks.
Lukas mengajarkan aku hal demikian. Ah saat itu aku berusia 25 tahun, saat-saat aku mendambakan pernikahan yang bahagia. Dilamar oleh kekasih pujaan and live happily ever after. Tapi kenyataan tak seindah harapan. Lukas dengan segala impian dan target hidupnya. Ia memutuskan untuk bekerja ke luar negri dengan peluang yang lebih besar untuk sukses. Awalnya kami baik-baik saja menjalani hubungan LDR. Hingga sampai suatu saat, tak ada komunikasi sama sekali. Aku telah berusaha menghubunginya dan tidak ada gubrisan sama sekali. Aku cemas, khawatir kalau terjadi sesuatu yang buruk padanya. Disaat aku memutuskan untuk melihatnya ke Hongkong, dia mengirim pesan. Memutuskan hubungan kami secara sepihak. Sangat tidak gentle. Tidak hanya itu, ia malah memberikan alasan bahwa hubungan ini tidak sehat dan membuatnya tidak fokus bekerja. Bullshit.
Aku tidak mencarinya untuk meminta penjelasan lebih. Aku sudah terluka. Dia menyalahkan hubungan kami yang telah berjalan enam tahun seakan tak memiliki makna sama sekali. Buatku itu sudah cukup. Diawal keputusannya untuk berangkat kerja keluar negri aku telah berinisiatif untuk menikah dulu dan kemudian ikut dia ke Hongkong. Kami bisa hidup berkecukupan dengan gajinya plus ada sedikit tabungan. Dan aku bisa mencari kerja disana untuk menambah pendapatan. Prediksiku kami tidak mungkin akan kekurangan, hanya saja pas-pasan, jika aku tidak bekerja. Tapi dia berdalih, tidak ingin membuat aku hidup susah saat bersanding dengannya. Padahal aku sendiri tidak keberatan hidup pas-pasan. Dan dia bersikukuh dengan egonya. Aku melepasnya, dan sekarang aku sadar, mungkin baginya cinta ini tak ada artinya. Hubungan enam tahun ini tak layak dipertahankan.
Aku belajar dari Lukas, tak ada rasa cinta yang kekal. Ketika aku mengingat Lukas kembali saat ini, rasa murka itu rasanya telah menghilang. Tak ada lagi rasa apa-apa. Hanya kosong. Mungkin inilah sebenar-benarnya melupakan. Meninggalkan rasa yang pernah ada, sampai lupa kalau dulu pernah ada, dan tak tahu bagaimana rasanya lagi. Smartphoneku berbunyi. Ada email masuk.
Dear R,
Maaf untuk sebulan ini tak pernah menghubungimu. Dan aku menyadari bahwa aku menyakiti diri sendiri. Dan kamupun tak pernah sekalipun menghubungiku. Ingin rasanya aku bertanya mengapa tapi rasanya tak pantas karna akupun tak memberikan alasan padamu.
Aku hanya ingin memberitahumu sesuatu. Namun demikian izinkan aku bertele-tele terlebih dahulu. Kamu tahu kalau aku begitu membenci uang. Aku menganggap uang adalah sampah. Kamu adalah satu-satunya orang yang aku ceritakan bahwa pernah aku diusir dari rumah orangtua seorang gadis, saat aku dengan baik-baik meminta orangtuanya merestui hubungan kami. Ketika orang tuanya tahu kalau aku hanya pegawai biasa dengan gaji rata-rata, tanpa rasa hormat mereka mengatakan aku tak pantas bersanding dengan putrinya dan disuruh angkat kaki dari rumahnya saat itu juga. Mulai dari saat itu aku dengan gila-gilaan mencari segala cara untuk mendapatkan uang dengan sebanyak-banyaknya. Hingga aku memilikinya hanya untuk membuangnya kembali seperti sampah. Sungguh menggelikan ya? Ah aku rasanya bisa membayangkan tawamu saat ini kalau kita mengobrol.
Namun demikian aku pun tak begitu yakin apabila aku dan dia dulu memilih bersama apakah kami bisa bahagia. Aku tak yakin kehidupan kami akan berjalan mulus. Mampukah dia hidup dengan bercukupan saja, karena sedari kecil segalanya telah tersedia baginya.
Aku belajar satu hal, apapun yang telah kita maupun orang yang bersinggungan dengan kita putuskan saat ini itulah yang menjadi jalan hidup kita kedepannya. Hidup memang rumit karena mempermainkan logika dan perasaan. Memiliki sebab dan akibat. Tapi rasa-rasanya kerumitan itu menempah kita. Pilihan itu memiliki bonus dan ganjarannya masing-masing.
Ah omong kosong dengan semuanya yang aku sebutkan tadi. Intinya aku ingin mengatakan.
Aku kangen kamu R.
Seseorang yang sangat merindukanmu,
L

Aku tak mengerti apa maksud L dengan emailnya ini barusan. Tapi aku tak peduli, aku langsung mencari nomornya di ponsel dan meneleponnya.
“I miss you too L.” Cecarku begitu panggilanku diangkat di sebrang. Tak ada jawaban apapun. Kemudian terdengar suara tawa.
“L?” Tanyaku bingung. “Kamu gak gila kan sangkin kangennya ama aku.”
“R, kamu tuh selalu saja begitu. To the point. Gak basa basi. Itu yang buat aku kangen kamu.”
“Kamu juga gak berubah. Terlalu banyak mikir dan bertele-tele.”
“Kamu di mana?”
“Apartemen.”
“Tunggu aku. Jangan kemana-mana.”
“Kamu mau kesini?” Tanyaku bingung.
“Biarkan aku bertindak tanpa pikir panjang untuk kali ini aja.”
“Ya terserah sih. Maksud aku, emang kamu tahu kamar aku yang mana? Kamu kan gak pernah mampir. Hanya ngantar aku sampe lobi aja.” Tanyaku bingung. Aku memang sering ke rumahnya, tapi dia tidak pernah masuk ke apartemenku. Entah kenapa.
“Aku tahu kok. Jangan kemana-mana!” Pintanya yang terdengar seperti perintah. Meninggalku dengan penuh tanya. Dari mana dia tahu kamarku? Mau apa dia datang? Kenapa dia tiba-tiba ingin ke apartemenku? Kenapa tidak ketemu di luar saja? Entahlah.

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh www.cekaja.com dan Nulisbuku.com

Advertisements

Author:

Just an Ordinary Girl

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s