Posted in Karyaku

Inspirasi dikala Senja

Aku menyusuri pantai, menikmati segala yang ada disekelilingku dengan semua panca indraku. Menikmati indahnya sunset disertai deburan ombak yang serasa bergelung menghampiri hatiku yang sendu. Menghirup udara malam yang begitu basah, bau khas pantai. Kakiku mulai terasa kebas, terkena air asin laut terlalu lama.

Aku mengambil tempat duduk di pojokan yang kosong, memesan soto dan es jeruk. Rupanya berlama-lama di air membuatku merasa lapar lebih cepat dari biasanya. Sambil menunggu pesananku datang aku menikmati lagi pemandangan laut yang terhampar luas sambil mendengar lagu dari ipod, aku jarang sekali menyukai lagu-lagu yang diplay dicafe. Inspirasi itu belum datang juga. Tanganku mulai mencoret-coret tidak jelas pada jurnal  kecilku, mataku memandang lurus kea rah lautan sedang pikiranku melayang entah kemana.

Aku melongo ketika seseorang tiba-tiba dari sampingku melepas headset dari telingaku. Dia kemudian tersenyum

“Boleh aku duduk disini.” Katanya, bukan dengan nada meminta tapi menegaskan, sambil duduk disampingku. Aku melihat disekeliling, masih ada meja-meja yang kosong. Kemudian aku menatapnya, hendak mengusirnya dengan sopan. Aku tak ingin diganggu apa lagi disaat sedang membutuhkan inspirasi seperti ini. Aku butuh waktu untuk bersama dengan diriku sendiri.

“Kamu duduk di posisi yang paling tepat. Aku pengen motret suasana ini, dan di sini sudut yang paling pas untuk mengabadikannya.” Dia menyelaku bahkan sebelum aku berkata apa-apa.  Aku menghembuskan nafas kesal, tak ingin berkonfrontasi. Aku menutup jurnalku, lebih baik aku yang mengalah pindah tempat duduk.

“Ini pesanannya mbak.” Pelayan café Bumbu Nusantara kemudian menghidangkan pesananku.

“Huft..” aku menghela nafas lagi. Ya sudahlah makan dulu baru pindah, pikirku. “Makasih.” Sahutku pada pelayan yang beranjak pergi.

Selagi aku makan dia sibuk dengan kameranya, jeprat sana jepret sini. Tanpa aku sadari ternyata dia juga mengambil gambar aku yang sedang makan.

“Kamu makan kok gitu sih?” aku menatapnya bingung.

“Nih..” dia menunjukkan hasil jepretannya. Foto itu menunjukkan aku yang sedang makan dengan tatapan kosong. “Kamu kayak gak ngenikmati makanannya sama sekali. Emang gak enak ya?”

“Enak kok.” Balasku singkat.

“Terus? Kenapa ekspresinya gitu banget? Did something happen?”

Yes, You are too nosey. Pikirku. Aku hanya menatapnya. Aku tak habis pikir, bagaimana bisa seseorang yang tak dikenal sama sekali ingin tahu masalah orang lain.

“Kamu lagi galau ya?” dia mulai meledekku.

Aku tak menggubrisnya. Menyelesaikan sisa makananku, lalu aku siap-siap pergi.

“Tunggu, mau kemana?”

“Cari inspirasi.” Jawabku sambil pergi ke meja kasir, membayar makananku. Dia mengikutiku.

“Inspirasi apa?” Dia masih mengikutiku berjalan menyusuri pantai lagi.

“Kebahagiaan.” Kataku singkat.

“Eh?” dia berhenti sesaat kemudian mengejarku lagi “Kamu gak lagi stress kan?”

“Ya gak lah. Aku lagi cari inspirasi untuk tulisanku tentang kebahagiaan.” Jelasku tak ingin membuatnya salah paham.

“Oh kamu penulis ya.” Dia menarik kesimpulan,  mengikuti langkahku sambil senyam-senyum menatapku.

“Kamu kenapa nyengir mulu?”

“Gak papa. Aku kira kamu cuma bisa ngomong beberapa kata doang, ternyata bisa ngomong panjang lebar juga toh.” Lagi, dia meledekku.

“Kenapa gak tulis tentang kebahagianmu aja?”

“Ah, kamu tahu apa tentang kebahagiaanku?” Pikirku, tapi ternyata aku mengucapkannya.

“Hmm… sini deh.” Ajaknya sambil manarik tanganku ke bangku tempat peristirahatan.

“Kamu lihat deh. Bahagia itu simpel kok.” Dia berbicara sambil mengutak-atik kameranya lalu menyerahkannya padaku.

“Liat anak kecil di foto ini. Mereka anak jalanan yang aku temui di Jakarta. Kamu liat senyum mereka, terlihat tulus kan?” kemudian dia memencet tombol panah kanan di kamera yang aku pegang.

“Yang ini baru aja kuambil semalam di salah satu club malam di Kuta. Kamu lihat orang-orang terlihat begitu menikmati suasana kan?”

“Tahu apa persamaan kedua foto tadi?” aku menggeleng.

“Kedua foto sama-sama menunjukkan mereka menikmati semua apa yang mereka kerjakan saat itu, menit itu, detik itu juga. Mereka mencari kebahagiaan dengan cara mereka masing-masing dan hasilnya mereka tersenyum, mereka tertawa.”  Dia menjelaskan setelah jeda singkat.

“Tapi itu bukan kebahagian, itu hanya sementara.” Selaku.

“Hidup juga cuman sementara kan? Kalau seseorang hanya bisa hidup satu hari, bukan berarti dia tidak pernah hidup kan?” aku mengerti maksudnya, tapi aku tak bisa menerima konsep kebahagian itu.

“Tak ada yang abadi nona.” Dia memanggilku nona? “Termasuk kebahagiaan.” Lanjutnya.

“Kamu tahu, bagaimana kamu bisa bahagia jika kamu tidak menikmati kebahagiaan yang kamu alami detik ini juga? Sebelum suatu masalah yang akan membawa kesedihan hadir, nikmati lah kebahagiaan yang kamu alami dengan bahagia.” Dia menatapku, lalu mengambil kamera yang masih kupegang.

“Kamu lihat ini.” Dia menunjukkan gambar-gambar diriku yang sejak senja tadi berjalan-jalan di pinggir pantai.

“Kapan kamu mengambilnya?” tanyaku heran.

“Itu gak penting. Lihat, semestinya ini gambar bisa menjadi potret kebahagiaan tapi malah menjadi potret kesenduan. Tahu kenapa? Karna kamu tak memberikan semburat kebahagiaan dimomen ini,.”

Aku risih. Aku tak menyukai apabila diriku sendiri dijadikan topik pembicaraan. Apa lagi hanya berdua, terasa terlalu intim. Aku tak mengenalnya sama sekali. Bahkan namanyapun aku tak tahu.

“Apa kamu bahagia?” tanyaku mengganti objek pembicaraan.

“Tentu saja.” Jawabnya mantap. “Aku bahagia, saat aku memotret orang-orang disekitar. Aku menangkap momen-momen tertentu yang mungkin orang itu sendiri tidak tahu bahwa momen itu bisa terlihat indah.”

“Objek fotoku adalah manusia. Karna manusia memberikan rasa disetiap momen. “

“Boleh aku jadikan kamu objek tulisanku? Sebagai inspirasi maksudku.” Aku spontan bertanya padanya tanpa pikir panjang.

“Boleh. Asal dengan satu syarat…”

“Apa ?”

“Kamu menulis dengan hati. Mencurahkan kebahagiaanmu juga didalamnya.” Dia menjawab dengan senyum.

 

            “Ah…” aku tersadar dari lamunanku, kurasakan kakiku mulai kebas. Perutku juga sudah mulai bunyi. Ternyata berlama-lama di air membuatku merasa lapar lebih cepat dari biasanya. Aku berjalan menuju Bumbu Nusantara, mengambil tempat duduk di pojokan yang kosong, memesan soto dan es jeruk.

Saat aku sedang menulis dengan semangatnya sebelum inspirasi tadi hilang, seseorang melepaskan headset dari telingaku.

“Boleh aku duduk disini nona?” Pria itu memegang kamera. Aku tertegun sesaat. Lalu mengangguk. “Makasih, namaku Ilham, fotografer.” Katanya memperkenalkan diri.

“Ilham…” Aku menggumamkan namanya dan tersenyum.

 

 

 

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali & Get discovered!

Advertisements

Author:

Just an Ordinary Girl

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s