Posted in Flash Fiction

Cintamu yang selibat

“Kau tau kenapa aku tak mau menerima lamaranmu dan lebih memilih hidup selibat?” Lima tahun lebih aku telah melarikan diri dari kehancuran hatiku. Kini aku telah, tidak, aku belum melupakannya sama sekali, tapi aku telah menerima kenyataan kalau dia lebih memilih menjadi milik Tuhannya. Aku berdamai dengan Tuhan, yang aku anggap telah mengambilnya dariku, aku telah berdamai dengan perasaanku, egoku yang tersakiti. Dan sekarang aku dihadapkan dengan alasan dibalik kehancuran hatiku.

“Kau tahu cintaku padamu tidak luntur, aku tulus menyangimu.” Shania melanjutkan, lebih tepatnya Suster Maria. Ketika Shania memutuskan mengambil kaul kemurnian, ketaatan dan kemiskinan, ia memilih nama Maria Goretti, simbolik pelindung kesucian para korban pemerkosaan.

Aku mengangguk, mengerti dan mengetahuinya. Tapi cintamu pada Tuhanmu mengalahkan cintamu padaku, pikirku. Aku memperhatikan anak remaja yang sedang bercengkarama dengan cerianya.

“Karena cintaku padamu lah aku memilih hidup ini.” Aku tak habis pikir bagaimana sebenarnya jalan pikirannya, apa yang sebenarnya ingin diungkapkannya.

“Kau tahu masa laluku, kau menerimaku apa adanya. Kau yang membangkitkan aku dari masa kelamku.” Aku menatapnya, tidak ada ketakutan dan kejijikan lagi dalam warna wajahnya. Dahulu menceritakannya saja dia tak mau. Yang ada kini wajah kedamaian.

“Tapi kau lihat anak-anak itu? Mereka masih sangat remaja untuk mengalami hal demikian. Dan terkadang orang-orang terdekat merekalah yang merusak masa depan mereka. Itu lebih menyakitkan lagi. Aku ingin berbagi bersama mereka, membangkitkan mereka dari keterpurukannya. Menyalurkan cinta yang kudapat darimu kepada mereka. Itulah tugasku, panggilanku.” Suaranya tenang dan lembut namun tegas mengalir tidak hanya ketelingaku tapi kehatiku.

“Dengan demikian cintamu tak terhenti, cintaku juga tak akan pernah hilang akan mengalir kepada anak-anak ini dan seterusnya kepada semua orang disekelilingnya.” Pada akhirnya dia menatapku, lembut dan penuh pengertian.

“Kau tahu Dario? Aku bersyukur kau hadir dihidupku.” Dia tersenyum, menepuk pelan tanganku yang terkepal di kursi lalu pergi masuk ke biara.

“Kini aku telah berdamai juga dengan cintaku Suster Maria.” Aku bergumam rendah.

Advertisements

Author:

Just an Ordinary Girl

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s