Posted in Flash Fiction, Karyaku

Sebuket Mawar

Bingung. Sudah tiga hari berturut-turut aku menemukan sebuket bunga mawar plus kartu ucapan singkat di meja kerjaku. Awalnya sih aku tidak menggubris sama sekali. Menurutku tindakan seperti ini terlalu kolot. Kalau suka bilang aja langsung. Kenapa harus sembunyi-sembunyi.

Senyumlah selalu, Karna senyummu begitu manis.  Itu ucapan dihari pertama. Jadul banget kan? gigi bisa kering bro, bibir juga pegel kali. Tapi yah peduli amat ama kartu ucapannya. Bunganya lumayanlah untuk hiasan meja kerja yang penuh dengan berkas-berkas yang harus diaudit.

Ucapan kedua, yah bisa dibilang lumayan lah. Kemarin kamu cantik banget, sayang aku hanya bisa mengagumi kecantikanmu dari jauh. Well, kedengarannya sih cheesy tapi cewek mana sih yang gak suka dipuji apalagi dibilang cantik. Bohong banget kalo bilang gak suka.

Dan kali ini aku merasa ucapannya sangat keterlaluan. Aku harus tahu siapa yang bertindak konyol seperti ini. Emang dikira romantis apa ya tindakannya ini? Gak sama sekali.

***

Hari ini aku sengaja datang ke kantor lebih pagi dari biasanya, ingin melihat siapa yang menaruh bunga di meja kerjaku. Biar aku damprat sekalian.

“Mas Boim?” Aku bingung antara percaya tak percaya.

“Eh mba Nisa. Pagi mba.” Jawab Mas Boim, OB dikantor ini, salah tingkah sambil meletakkan bunga mawar yang belum sempat ditaruh di mejaku.

“Jadi mas yang selama ini…”

“Bukan mba, maaf mba, mba salah faham.”

“Terus siapa? Jelas-jelas mas Boim yang mau ngeletakin bunga itu.”

“Saya cuma disuruh mba.. maaf saya permisi dulu ya.” Sepertinya dia tidak nyaman dalam situasi disudutkan olehku.

Kenapa kemarin Jutek mulu? Tar cantiknya ilang lho… Ya ampun, Nih orang bener-bener ngeselin. Gak sadar apa, kemarin aku kesel gara-gara kartu ucapannya. Pagi-pagi udah bikin bad mood aja. Kali ini kesabaranku sudah habis.

Aku menyusul mas Boim ke pantry, kakiku terhenti ketika mendengar mas Boim berbicara. Sepertinya sedang menelepon. “Iya Pak Joko, hari ini saya udah taruh bunganya seperti biasa di meja mba Nisa. Tapi..”

Aku langsung pergi. Tahu apa kelanjutan dari pembicaraan tersebut. Frustrasi. Seorang Manajer keuangan, berusia 40an, memiliki dua orang anak. Gak sadar umur apa? Malu tuh sama anak dan istri di rumah, masih sempet-sempetnya ngelirik yang lain.

Mengambil tas lalu buru-buru keluar kantor. Melajukan kemudi mobil secepatnya. Sebelum ada yang melihatku ke kantor. Aku mau menenangkan pikiran. Malas banget kalo sampe ketemu sama si tua itu.

***

“Kenapa gak bilang langsung aja sih, kalo kamu naksir dia. Gak mungkinlah dia nolak kamu. Seorang GM.”

“Yang penting si mas Boim belum sempet bocorin kan om? Biarin aja, aku senang liat tingkahnya. Moodnya naik turun. Waktu aku bilang dia cantik, dia sumringah terus. Eh besoknya pas aku bilang, dia sepertinya gendutan. Satu harian jutek mulu. lucu om. Biar dulu, aku masi pengen menikmati tingkahnya.” Balas seseorang bermata biru, turunan dari ibunya.

“Ah kamu ini terserah lah.” Pak Joko memutuskan sambungan telepon dengan anak sahabat karibnya itu yang sudah ia anggap sebagai anak sendiri. Begitu Boim ngelapor kalau Nisa hampir saja tahu, dia langsung buru-buru nelepon Teo. Tapi dasar anak muda.

Advertisements

Author:

Just an Ordinary Girl

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s