Posted in Karyaku

L & R

Aku adalah orang yang terluka karena cinta. Luka itu telah tertoreh dalam sehingga tak seorang pun sanggup untuk mengobatinya. Aku hanya tahu bagaimana cara membalas dendam terhadap cinta.
Dia adalah orang yang terluka karena uang. Baginya uang telah membuat harga dirinya hilang, seakan dia tidak memiliki harga lagi. Kini ia hanya tahu bagaimana menghamburkan uang, menjadikannya seakan tak bernilai. Sampah.
“Sedang memikirkan apa?” Tanyaku setelah beberapa menit tak ada suara. Desahan maupun gumaman. Dia melirikku, kemudian memutar badannya kesamping hingga berhadapan denganku. Aku mengikutinya, hingga kami berhadapan satu sama lain. Kami saling menatap. Hanyut dikedalaman mata lawan masing-masing.
“Tak penting.” Katanya akhirnya. Ia beranjak dari ranjang. Mulai menggenakan pakainnya satu persatu yang tersebar di lantai. Aku mengawasinya. Kepalaku bertopang pada tanganku.
“Kalau kamu masih mau di sini silahkan. Atau kamu mau pulang? Biar aku antar sekalian.” Dia melirikku sesaat, kemudian melanjutkan mengenakan pakaiannya.
“Kita makan dulu gimana? Di emperan jalan yang masih buka. Aku tiba-tiba lapar sehabis ‘olahraga’ tadi.” Aku tersenyum sambil menggerakkan kedua jari telunjuk dan tengahku, seperti membuat tanda kutip.
“Aku tidak lapar.”
“Aku tidak tanya kamu lapar atau gak. Kamu temani aku aja. Keberatan?”
“Aku heran kemana semua makanan yang kamu makan itu. Makan banyak tapi badan gak berubah sama sekali.”
“Hilang begitu saja, terlalu banyak olahraga sepertinya.” Aku mengedipkan mataku. Dia hanya menggeleng-geleng kepala mendengar jawabanku yang asal.

***

“Mas pesen nasi goreng special satu, porsinya jangan porsi cewek loh ya mas. Minumnya es jeruk. Kamu apa?”
“Es jeruk aja mas.” Jawabnya langsung ke si pedagang. Lalu kami duduk di pojokan, sudah larut malam begini masih ramai saja angkringan di jalanan ini. Mata beberapa orang mengikuti kami. Tak heran, kami sepertinya salah kostum untuk hanya makan malam dipinggiran jalan.
Aku mengaktifkan ponselku. Aku tak menggrubis pesan-pesan yang masuk. Namun beberapa menit kemudian panggilan masuk. Wido.
“Apa lagi?” Jawabku to the point.
“Kemaren gue kan udah jelasin semuanya. Kita gak perlu ketemu, gak ada yang harus dijelasin lagi.” Aku mendesah sebal sambil memutar mataku.
“Kalimat mana yang gak jelas? Kalo gue gak mau nikah sama lu? Atau kalo kita udahan? Ato bagian gue udah bosan?” Aku bersabar sebentar mendengar kata-kata wido.
“Terserah lu deh.” Aku mematikan teleponku.
“Tadi udah checkout ya? Aku nginap di tempatmu ya?” Pintaku melas pada L.
“Si wido udah ngelamar aja? Cepat amat.” Aku mengedikkan bahuku.
“Kamu kapan tobatnya sih R?”
“Kamu juga kapan tobatnya L?” Tanyaku balik, lalu kami tertawa berbarengan. Entah apa yang lucu. Mungkin kami sama-sama menertawakan kehidupan kami. Entahlah. Yang penting kami masih bisa tertawa lepas. Kemudian makanan datang, menghentikan tawa kami yang lepas.
“Terus dia nunggu kamu di apartemen?”
“Ehmm..” Aku menganggukan kepalaku sambil menikmati nasi gorengku.
“Kasian banget sih laki-laki yang pacaran sama kamu R, tiap kali mereka ngelamar, kamu langsung tolak mentah-mentah. Terus bubar gitu aja.”
“Bodo.” Jawabku singkat sambil menelan makanan yang kukunyah.
“Ckckck.”
“Gak usah ngejudge deh. Kita sama ini. Kamu juga malah lebih parah. Sekali pakek langsung buang.”
“Lah kok malah lebih parah? Gak dong. Cewe-cewe itu kok yang pada mau, malah banyakan mereka yang ngajak duluan. No commitment. Gak ada mainin perasaan, nah kamu? Mainin perasaan mereka namanya. Lebih parah dong.”
“Terserah.”
“Anyway ini udah cowok yang keberapa?” Aku menjawabnya dengan mengacungkan jari-jariku sambil menyeruput minuman.
“Tiga?” Tanyanya dengan nada tak yakin yang kujawab dengan anggukan.
“Dua tahun aku kenal sama kamu kayaknya sudah lebih dari empat deh cowok yang kamu buat dunianya jungkir balik. Yang ngedamprat aku aja kayaknya udah ada tiga, belum termasuk si Dodo Dodo yang telepon sama kamu tadi.”
“Wido.” Koreksiku “Yang aku putusin saat ngelamar aku ya tiga orang. Kalo yang belum sempat ngelamar, gak tau deh, malas ngitungnya. Eh bagi minumnya ya.” Aku mengambil gelasnya tanpa menunggu jawabannya.
“Udah yuk balik.” Aku langsung berdiri dan jalan menuju mobilnya, sedang L menuju si penjual nasi goreng untuk membayar tagihan. Aturan nomor satu kalau lagi jalan sama L, jangan pernah bayar apapun kalau gak mau ribut. Kelihatannya dia mendapat kepuasan sendiri tiap kali mengeluarkan uang yang dia miliki.
Sesampainya di rumah L, kami langsung masuk ke kamar masing-masing setelah memberi salam selamat malam. Badanku rasanya pegal sekali, setelah seharian berpergian meeting sana-sini. Aku mengganti dress kerjaku dengan baju yang biasa kupakai tidur bila di rumah L. Rumah L begitu besar, tapi hanya ditempati seorang diri. Pembantunya hanya datang untuk membersihkan dan membereskan rumah, kemudian langsung pulang. Dari empat kamar yang ada, selain kamar utama milik L, kamar ini seperti ada pemiliknya, aku. Kalau dihitung-hitung mungkin aku kerumahnya hanya sekali dalam tiga bulan, itupun karena terpaksa. Biasanya kalau lagi mau menghindar dari mantan yang keras kepala. Selebihnya aku dan L ketemu di mall, café, resto atau yang paling sering di hotel.
Maka dari itu tak ada satupun barang kepunyaanku tinggal disini, termasuk baju. Aku selalu memakai kemeja L yang telah aku ambil alih kepemilikannya. Begitu aku mengenakan kemeja yang kebesaran dibadanku, aku merasakan ketidaknyamanan.
“L…” Aku mengeram sambil berjalan menuju kamar L, mengetuknya.
“Ada apa?” Tanyanya begitu membuka pintu sambil mengenakan baju kaosnya.
“Dicuci ya baju ini?” Tanyaku kesal.
“Ya ampun R. kirain ada apa.” Dia tertawa sambil mengacak-acak rambutku.
“Arhhhh” Kesalku sambil menampis tangannya “Kamu kan tahu, aku paling gak suka pake baju yang baru dicuci kalo mau tidur.”
“Itu udah empat bulan belum dicuci R. Masa mau disimpan mulu.”
“Ya biarin aja L, lagi baru sekali ini aku pake. Terakhir aku pake juga baru dicuci, masa sekarang udah bekas cucian juga.”
“R, R..” dia mencubit pipiku kali ini “Aneh banget sih kebiasaan kamu.”
“Tau ah, besok kalo aku kurang tidur kamu tanggung jawab loh. Besok aku ada meeting penting pagi-pagi”
“Idihhh.. Atau kamu mau pake kemeja aku yang tadi baru aku pake, kan bekas pake tuh.” Tawarnya
“Ogah. Aku maunya yang bekas pake aku aja. Malas banget pake bekas orang.”
“Terus gimana?”
“Gimana kalau kita tidur bareng.” Jawabku tanpa pikir panjang. Aku punya kebiasaan aneh, kalau tidur harus pake baju yang bekas pakai, makin lama makin nyaman dan enak dibawa tidur. Kalau bekas cuci, jangan harap aku bisa tidur pulas. Dan cara lain biar aku bisa tidur pulas adalah tidur dengan orang lain disampingku. Tidur nyaman dipelukan orang sambil mendengar detak jantung dan menghirup aroma tubuhnya. Aneh? Memang.
“R…” L menatapku kaku.
“Ih, tenang aja L. Aku gak akan nerkam kamu kok. Kita cuma tidur bareng aja kok. Gak ngeseks.” Jawabku santai.
“Iya kamu mungkin gak nerkam. Tapi aku cowok normal R. Aku gak mau melanggar komitmen aku sendiri gara-gara hal sepele gini.” Jawabnya
“ya uda deh.” Jawabku lemah sambil berbalik badan menuju kamarku.
Sejam kemudian L mengirim Whatsapp.
Uda tidur?
Belumlah 😥
Aku mendengar suara ketukan dan L memanggil namaku. Aku buka pintu sambil tersenyum manis.
“Aku tidur disini aja deh.” Dia langsung masuk ke kamar dan berbaring tidur.
“Makasih L.” Aku tersenyum senang sambil menutup pintu kamar. Belum juga aku sampai di ranjang suara bel pintu rumah terdengar.
“Siapa yang datang jam segini L?” Tanyaku bingung. L menggeleng dan berjalan menuju ruang depan.
“Risa…” Aku yang awalnya hanya diam dikamar karena mendengar namaku disebut oleh L, langsung menuju pintu depan dan mendapati L sedang dipeluk oleh seorang wanita.
“Risa kamu kenapa?” Terdengar suara L yang lebih lembut bertanya pada perempuan itu. Oh, aku mengerti sekarang yang dipanggil tadi bukan aku tapi Risa, mantannya. Aku terpaku melihat adegan di hadapanku ini. Terkejut.
“Danu, Danu, dia tadi mabuk-mabukan lalu memukulku.” Wanita itu, menjawab kemudian melepaskan pelukannya dari L. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, karena tertutup oleh badan L yang bidang dan tinggi. L mengajak Risa masuk, dan aku melihat wajahnya. wanita itu, yang sanggup membuat L jatuh cinta setengah mati, sangat anggun. Wajahnya manis sekali, bahkan dengan bekas lebam sedikit di pipi kirinya. aku terperanjat, sadar kalau berada di situasi yang canggung. Risa melihatku dari atas sampai bawah, menatapku nanar, kecewa, sedih, terluka dan cemburu? Entahlah yang pasti tidak senang.
“Eh maaf L, tadi aku kira kamu memanggilku.” Aku jadi salah tingkah. “Kayaknya aku mendingan balik aja deh L.”
“Emang kamu mau kemana?” Tanyanya tidak senang “Lagian ini udah malam banget.”
“Gampanglah, bisa ke rumah temen yang lain.” Jawabku asal lalu berbalik badan.
“Gak usah R. Aku aja sama Risa yang keluar. Kamu tetap disini aja.”
Aku terdiam sesaat, terpaku. Menyadari sesuatu. Aku tidak mau dia pergi keluar dengan Risa. Lebih baik aku yang pergi. Tapi terlambat. Begitu aku berbalik dan ingin melarangnya. L telah pergi bersama Risa.

***

Aku dan L bertemu dua tahun lalu. Ketika acara kick off meeting. Perusahaannya adalah rekan bisnis kami. Sebenarnya kami telah sering saling email-emailan ataupun chat di Whatsapp group, tapi belum pernah bertemu. Karena setiap pertemuan yang terjadi dia selalu tidak hadir. Wajar saja, karena dengan posisinya seharusnya memang bukan dia yang turun tangan langsung.
Begitu kami bertemu dan ngobrol, terdapat kecocokan yang aneh. Aneh karena sebenarnya kami begitu berbeda tapi nyaman untuk ngobrol ini itu. Setelah itu setiap ada meeting dia pasti hadir.
“Jangan panggil aku bapak. Terlalu tua” Katanya saat kami ngobrol sehabis meeting bermaksud supaya tidak begitu formal.
“Hmm.. baiklah tapi kalau boleh jujur, saya tidak nyaman manggil Anda Lukas.” Jawabku to the point.
“Wah kenapa? Apa mantan pacar kamu namanya Lukas?” Tanyanya asal.
“Iya.” Jawabku santai, kenapa tebakannya begitu pas. Dia terpaku menatapku sesaat kemudian tertawa. “Aneh sekali. Aku juga punya mantan namanya Risa. Kebetulan yang aneh kan?”
“Woww.. kok bisa kebetulan sekali.” Jawabku setengah terpekik. Tak menyangka.
“Aku juga tidak begitu nyaman memanggilmu Risa.”
“hmmmm, gimana kalau aku panggil kamu L dan kamu panggil aku R.” Tawarku kemudian, dan mulai beraku kamu alih-alih saya Anda.
“Good Idea.”
Begitulah awal kedekatan kami, dari rekan bisnis kemudian menjadi teman. Dan sekarang aku bingung hubungan kami dikategorikan apa. Teman seks? Tapi aku tidak merasa demikian, hubungan kami lebih dari itu.
“Maaf R, aku harap kamu tidak menganggap hubungan kita lebih dari ini.” Katanya dipagi hari saat aku terbangun dipelukannya. Aku yang masih setengah tertidur menatap wajahnya. Rautnya kelihatan serba salah. Aku mengelus wajahnya.
“Tenang L. aku punya pacar kok.” Jawabku santai sambil mengetatkan pelukanku padanya dan terlelap kembali.

***

Sudah sebulan aku dan L tidak berkomunikasi. Selama dua tahun ini, tak pernah seharipun kami lost contact. Memang kalau bertemu langsung hanya tiga sampai enam kali sebulan tapi setidaknya selalu chat atau teleponan. Inilah hal yang aku takutkan ketika itu, ketika L keluar rumah. Aku dan L memiliki commitment yang sama. Tidak akan pernah melakukan seks di rumah masing-masing. Alasannya? Entahlah kami sendiripun tak tahu.
“Aku hanya tidak ingin mengotori apartemenku.” Jawabku saat L menanyakannya.
“Kayak kamu gak kotor aja.” Sindirnya. Aku hanya cengengesan dan bertanya balik.
“Entahlah. Malas aja.” Jawabnya tak jelas.
Hari ini hari sabtu. Dan aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Sebulan ini aku kehilangan fokus. Hampa. Semenjak putus dengan Wido, aku tak berniat lagi menjalin hubungan. Jadilah serasa begitu hampa. Setelah Lukas, tak ada orang lain yang benar-benar begitu aku cintai. Rasanya aku mati rasa. Aku tak tahu lagi arti cinta, lebih tepatnya tidak percaya lagi dengan cinta. Karena sebenarnya diatas cinta tersebut banyak faktor x, y, z yang lebih penting. Seperti uang dan seks.
Lukas mengajarkan aku hal demikian. Ah saat itu aku berusia 25 tahun, saat-saat aku mendambakan pernikahan yang bahagia. Dilamar oleh kekasih pujaan and live happily ever after. Tapi kenyataan tak seindah harapan. Lukas dengan segala impian dan target hidupnya. Ia memutuskan untuk bekerja ke luar negri dengan peluang yang lebih besar untuk sukses. Awalnya kami baik-baik saja menjalani hubungan LDR. Hingga sampai suatu saat, tak ada komunikasi sama sekali. Aku telah berusaha menghubunginya dan tidak ada gubrisan sama sekali. Aku cemas, khawatir kalau terjadi sesuatu yang buruk padanya. Disaat aku memutuskan untuk melihatnya ke Hongkong, dia mengirim pesan. Memutuskan hubungan kami secara sepihak. Sangat tidak gentle. Tidak hanya itu, ia malah memberikan alasan bahwa hubungan ini tidak sehat dan membuatnya tidak fokus bekerja. Bullshit.
Aku tidak mencarinya untuk meminta penjelasan lebih. Aku sudah terluka. Dia menyalahkan hubungan kami yang telah berjalan enam tahun seakan tak memiliki makna sama sekali. Buatku itu sudah cukup. Diawal keputusannya untuk berangkat kerja keluar negri aku telah berinisiatif untuk menikah dulu dan kemudian ikut dia ke Hongkong. Kami bisa hidup berkecukupan dengan gajinya plus ada sedikit tabungan. Dan aku bisa mencari kerja disana untuk menambah pendapatan. Prediksiku kami tidak mungkin akan kekurangan, hanya saja pas-pasan, jika aku tidak bekerja. Tapi dia berdalih, tidak ingin membuat aku hidup susah saat bersanding dengannya. Padahal aku sendiri tidak keberatan hidup pas-pasan. Dan dia bersikukuh dengan egonya. Aku melepasnya, dan sekarang aku sadar, mungkin baginya cinta ini tak ada artinya. Hubungan enam tahun ini tak layak dipertahankan.
Aku belajar dari Lukas, tak ada rasa cinta yang kekal. Ketika aku mengingat Lukas kembali saat ini, rasa murka itu rasanya telah menghilang. Tak ada lagi rasa apa-apa. Hanya kosong. Mungkin inilah sebenar-benarnya melupakan. Meninggalkan rasa yang pernah ada, sampai lupa kalau dulu pernah ada, dan tak tahu bagaimana rasanya lagi. Smartphoneku berbunyi. Ada email masuk.
Dear R,
Maaf untuk sebulan ini tak pernah menghubungimu. Dan aku menyadari bahwa aku menyakiti diri sendiri. Dan kamupun tak pernah sekalipun menghubungiku. Ingin rasanya aku bertanya mengapa tapi rasanya tak pantas karna akupun tak memberikan alasan padamu.
Aku hanya ingin memberitahumu sesuatu. Namun demikian izinkan aku bertele-tele terlebih dahulu. Kamu tahu kalau aku begitu membenci uang. Aku menganggap uang adalah sampah. Kamu adalah satu-satunya orang yang aku ceritakan bahwa pernah aku diusir dari rumah orangtua seorang gadis, saat aku dengan baik-baik meminta orangtuanya merestui hubungan kami. Ketika orang tuanya tahu kalau aku hanya pegawai biasa dengan gaji rata-rata, tanpa rasa hormat mereka mengatakan aku tak pantas bersanding dengan putrinya dan disuruh angkat kaki dari rumahnya saat itu juga. Mulai dari saat itu aku dengan gila-gilaan mencari segala cara untuk mendapatkan uang dengan sebanyak-banyaknya. Hingga aku memilikinya hanya untuk membuangnya kembali seperti sampah. Sungguh menggelikan ya? Ah aku rasanya bisa membayangkan tawamu saat ini kalau kita mengobrol.
Namun demikian aku pun tak begitu yakin apabila aku dan dia dulu memilih bersama apakah kami bisa bahagia. Aku tak yakin kehidupan kami akan berjalan mulus. Mampukah dia hidup dengan bercukupan saja, karena sedari kecil segalanya telah tersedia baginya.
Aku belajar satu hal, apapun yang telah kita maupun orang yang bersinggungan dengan kita putuskan saat ini itulah yang menjadi jalan hidup kita kedepannya. Hidup memang rumit karena mempermainkan logika dan perasaan. Memiliki sebab dan akibat. Tapi rasa-rasanya kerumitan itu menempah kita. Pilihan itu memiliki bonus dan ganjarannya masing-masing.
Ah omong kosong dengan semuanya yang aku sebutkan tadi. Intinya aku ingin mengatakan.
Aku kangen kamu R.
Seseorang yang sangat merindukanmu,
L

Aku tak mengerti apa maksud L dengan emailnya ini barusan. Tapi aku tak peduli, aku langsung mencari nomornya di ponsel dan meneleponnya.
“I miss you too L.” Cecarku begitu panggilanku diangkat di sebrang. Tak ada jawaban apapun. Kemudian terdengar suara tawa.
“L?” Tanyaku bingung. “Kamu gak gila kan sangkin kangennya ama aku.”
“R, kamu tuh selalu saja begitu. To the point. Gak basa basi. Itu yang buat aku kangen kamu.”
“Kamu juga gak berubah. Terlalu banyak mikir dan bertele-tele.”
“Kamu di mana?”
“Apartemen.”
“Tunggu aku. Jangan kemana-mana.”
“Kamu mau kesini?” Tanyaku bingung.
“Biarkan aku bertindak tanpa pikir panjang untuk kali ini aja.”
“Ya terserah sih. Maksud aku, emang kamu tahu kamar aku yang mana? Kamu kan gak pernah mampir. Hanya ngantar aku sampe lobi aja.” Tanyaku bingung. Aku memang sering ke rumahnya, tapi dia tidak pernah masuk ke apartemenku. Entah kenapa.
“Aku tahu kok. Jangan kemana-mana!” Pintanya yang terdengar seperti perintah. Meninggalku dengan penuh tanya. Dari mana dia tahu kamarku? Mau apa dia datang? Kenapa dia tiba-tiba ingin ke apartemenku? Kenapa tidak ketemu di luar saja? Entahlah.

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh www.cekaja.com dan Nulisbuku.com

Posted in Karyaku

Inspirasi dikala Senja

Aku menyusuri pantai, menikmati segala yang ada disekelilingku dengan semua panca indraku. Menikmati indahnya sunset disertai deburan ombak yang serasa bergelung menghampiri hatiku yang sendu. Menghirup udara malam yang begitu basah, bau khas pantai. Kakiku mulai terasa kebas, terkena air asin laut terlalu lama.

Aku mengambil tempat duduk di pojokan yang kosong, memesan soto dan es jeruk. Rupanya berlama-lama di air membuatku merasa lapar lebih cepat dari biasanya. Sambil menunggu pesananku datang aku menikmati lagi pemandangan laut yang terhampar luas sambil mendengar lagu dari ipod, aku jarang sekali menyukai lagu-lagu yang diplay dicafe. Inspirasi itu belum datang juga. Tanganku mulai mencoret-coret tidak jelas pada jurnal  kecilku, mataku memandang lurus kea rah lautan sedang pikiranku melayang entah kemana.

Aku melongo ketika seseorang tiba-tiba dari sampingku melepas headset dari telingaku. Dia kemudian tersenyum

“Boleh aku duduk disini.” Katanya, bukan dengan nada meminta tapi menegaskan, sambil duduk disampingku. Aku melihat disekeliling, masih ada meja-meja yang kosong. Kemudian aku menatapnya, hendak mengusirnya dengan sopan. Aku tak ingin diganggu apa lagi disaat sedang membutuhkan inspirasi seperti ini. Aku butuh waktu untuk bersama dengan diriku sendiri.

“Kamu duduk di posisi yang paling tepat. Aku pengen motret suasana ini, dan di sini sudut yang paling pas untuk mengabadikannya.” Dia menyelaku bahkan sebelum aku berkata apa-apa.  Aku menghembuskan nafas kesal, tak ingin berkonfrontasi. Aku menutup jurnalku, lebih baik aku yang mengalah pindah tempat duduk.

“Ini pesanannya mbak.” Pelayan café Bumbu Nusantara kemudian menghidangkan pesananku.

“Huft..” aku menghela nafas lagi. Ya sudahlah makan dulu baru pindah, pikirku. “Makasih.” Sahutku pada pelayan yang beranjak pergi.

Selagi aku makan dia sibuk dengan kameranya, jeprat sana jepret sini. Tanpa aku sadari ternyata dia juga mengambil gambar aku yang sedang makan.

“Kamu makan kok gitu sih?” aku menatapnya bingung.

“Nih..” dia menunjukkan hasil jepretannya. Foto itu menunjukkan aku yang sedang makan dengan tatapan kosong. “Kamu kayak gak ngenikmati makanannya sama sekali. Emang gak enak ya?”

“Enak kok.” Balasku singkat.

“Terus? Kenapa ekspresinya gitu banget? Did something happen?”

Yes, You are too nosey. Pikirku. Aku hanya menatapnya. Aku tak habis pikir, bagaimana bisa seseorang yang tak dikenal sama sekali ingin tahu masalah orang lain.

“Kamu lagi galau ya?” dia mulai meledekku.

Aku tak menggubrisnya. Menyelesaikan sisa makananku, lalu aku siap-siap pergi.

“Tunggu, mau kemana?”

“Cari inspirasi.” Jawabku sambil pergi ke meja kasir, membayar makananku. Dia mengikutiku.

“Inspirasi apa?” Dia masih mengikutiku berjalan menyusuri pantai lagi.

“Kebahagiaan.” Kataku singkat.

“Eh?” dia berhenti sesaat kemudian mengejarku lagi “Kamu gak lagi stress kan?”

“Ya gak lah. Aku lagi cari inspirasi untuk tulisanku tentang kebahagiaan.” Jelasku tak ingin membuatnya salah paham.

“Oh kamu penulis ya.” Dia menarik kesimpulan,  mengikuti langkahku sambil senyam-senyum menatapku.

“Kamu kenapa nyengir mulu?”

“Gak papa. Aku kira kamu cuma bisa ngomong beberapa kata doang, ternyata bisa ngomong panjang lebar juga toh.” Lagi, dia meledekku.

“Kenapa gak tulis tentang kebahagianmu aja?”

“Ah, kamu tahu apa tentang kebahagiaanku?” Pikirku, tapi ternyata aku mengucapkannya.

“Hmm… sini deh.” Ajaknya sambil manarik tanganku ke bangku tempat peristirahatan.

“Kamu lihat deh. Bahagia itu simpel kok.” Dia berbicara sambil mengutak-atik kameranya lalu menyerahkannya padaku.

“Liat anak kecil di foto ini. Mereka anak jalanan yang aku temui di Jakarta. Kamu liat senyum mereka, terlihat tulus kan?” kemudian dia memencet tombol panah kanan di kamera yang aku pegang.

“Yang ini baru aja kuambil semalam di salah satu club malam di Kuta. Kamu lihat orang-orang terlihat begitu menikmati suasana kan?”

“Tahu apa persamaan kedua foto tadi?” aku menggeleng.

“Kedua foto sama-sama menunjukkan mereka menikmati semua apa yang mereka kerjakan saat itu, menit itu, detik itu juga. Mereka mencari kebahagiaan dengan cara mereka masing-masing dan hasilnya mereka tersenyum, mereka tertawa.”  Dia menjelaskan setelah jeda singkat.

“Tapi itu bukan kebahagian, itu hanya sementara.” Selaku.

“Hidup juga cuman sementara kan? Kalau seseorang hanya bisa hidup satu hari, bukan berarti dia tidak pernah hidup kan?” aku mengerti maksudnya, tapi aku tak bisa menerima konsep kebahagian itu.

“Tak ada yang abadi nona.” Dia memanggilku nona? “Termasuk kebahagiaan.” Lanjutnya.

“Kamu tahu, bagaimana kamu bisa bahagia jika kamu tidak menikmati kebahagiaan yang kamu alami detik ini juga? Sebelum suatu masalah yang akan membawa kesedihan hadir, nikmati lah kebahagiaan yang kamu alami dengan bahagia.” Dia menatapku, lalu mengambil kamera yang masih kupegang.

“Kamu lihat ini.” Dia menunjukkan gambar-gambar diriku yang sejak senja tadi berjalan-jalan di pinggir pantai.

“Kapan kamu mengambilnya?” tanyaku heran.

“Itu gak penting. Lihat, semestinya ini gambar bisa menjadi potret kebahagiaan tapi malah menjadi potret kesenduan. Tahu kenapa? Karna kamu tak memberikan semburat kebahagiaan dimomen ini,.”

Aku risih. Aku tak menyukai apabila diriku sendiri dijadikan topik pembicaraan. Apa lagi hanya berdua, terasa terlalu intim. Aku tak mengenalnya sama sekali. Bahkan namanyapun aku tak tahu.

“Apa kamu bahagia?” tanyaku mengganti objek pembicaraan.

“Tentu saja.” Jawabnya mantap. “Aku bahagia, saat aku memotret orang-orang disekitar. Aku menangkap momen-momen tertentu yang mungkin orang itu sendiri tidak tahu bahwa momen itu bisa terlihat indah.”

“Objek fotoku adalah manusia. Karna manusia memberikan rasa disetiap momen. “

“Boleh aku jadikan kamu objek tulisanku? Sebagai inspirasi maksudku.” Aku spontan bertanya padanya tanpa pikir panjang.

“Boleh. Asal dengan satu syarat…”

“Apa ?”

“Kamu menulis dengan hati. Mencurahkan kebahagiaanmu juga didalamnya.” Dia menjawab dengan senyum.

 

            “Ah…” aku tersadar dari lamunanku, kurasakan kakiku mulai kebas. Perutku juga sudah mulai bunyi. Ternyata berlama-lama di air membuatku merasa lapar lebih cepat dari biasanya. Aku berjalan menuju Bumbu Nusantara, mengambil tempat duduk di pojokan yang kosong, memesan soto dan es jeruk.

Saat aku sedang menulis dengan semangatnya sebelum inspirasi tadi hilang, seseorang melepaskan headset dari telingaku.

“Boleh aku duduk disini nona?” Pria itu memegang kamera. Aku tertegun sesaat. Lalu mengangguk. “Makasih, namaku Ilham, fotografer.” Katanya memperkenalkan diri.

“Ilham…” Aku menggumamkan namanya dan tersenyum.

 

 

 

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali & Get discovered!

Posted in Flash Fiction, Karyaku, Sharing

Sabtu pagi di taman

Kau datang tiba-tiba.

Waktu itu aku masih ingat benar detailnya. Bagaimana bisa? Jangan kau tanyakan, sebab aku pun tak mengerti. Mungkin karena kau begitu membekas bagiku.

Saat itu di pagi hari, sabtu pagi tepatnya, aku seperti biasa lari pagi keliling kompleks rumah. Matahari masih malu-malu menampakkan dirinya, para ibu sudah mulai mengerumuni bapak tukang sayur, saling menyapa satu sama lain dan berbagi cerita seperti biasanya, bergosip.

Aku melewati mereka, tak peduli seberapa hot-nya gossip yang mereka bagi. Menghirup udara segar, sambil mengatur nafasku yang mulai terasa berat karena lelah. Lariku memelan ketika aku sudah mendekati taman.

Aku duduk di dekat bangku taman, dipojok. Langit sangat cerah. Matahari sudah tersenyum manis di ufuk timur. Anak-anak kecil mulai berlarian ditaman, entah sekedar bermain-main atau sarapan. Beberapa ibu-ibu atau babysitter  sibuk mengejar anak kecil yang lincah-lincah untuk menyuapi mereka.

Ketika aku sedang menikmati pagi itu sambil mengagumi betapa lucunya dan lugunya anak kecil yang belum mengenal benar pahit hidupnya kehidupan, kau datang menghampiriku. Awalnya aku acuh tak acuh padamu, tapi akhirnya aku menghiraukanmu karena kau sangat bawel. Kau tahu? Itu kali pertamanya aku punya teman mengobrol sepertimu.

Kaupun pergi tiba-tiba.

Tak ada salam perpisahan. Aku mencarimu setiap sabtu pagi sehabis lari pagi, ketika istirahat di taman. Kau tidak ada. Kemanakah kau? Bukankah setiap hari sabtu pagi biasanya kau menemaniku? Tapi kini kali ketiganya kau tidak ada. Sudahkah kau bosan mengajakku mengobrol?

Entahlah. Benar kata orang, makhluk sepertimu sungguh sangat angin-anginan. Tak setia. Tapi Aku rindu sikapmu yang manja. Aku berharap kau baik-baik saja. Apakah sebaiknya memang kita tidak boleh dekat, toh kita memang berbeda. Entahlah. Namun aku bersyukur bisa dekat denganmu, walau hanya sebentar.

“Bruno, ayo kita pulang.” Tuanku mengelus kepalaku kemudian berdiri. Aku mengikutinya disamping. Mengedarkan pandanganku sambil memicingkan telingaku yang peka, berharap mendengar meongan khasmu disetiap sabtu pagi.

Posted in Flash Fiction

Cintamu yang selibat

“Kau tau kenapa aku tak mau menerima lamaranmu dan lebih memilih hidup selibat?” Lima tahun lebih aku telah melarikan diri dari kehancuran hatiku. Kini aku telah, tidak, aku belum melupakannya sama sekali, tapi aku telah menerima kenyataan kalau dia lebih memilih menjadi milik Tuhannya. Aku berdamai dengan Tuhan, yang aku anggap telah mengambilnya dariku, aku telah berdamai dengan perasaanku, egoku yang tersakiti. Dan sekarang aku dihadapkan dengan alasan dibalik kehancuran hatiku.

“Kau tahu cintaku padamu tidak luntur, aku tulus menyangimu.” Shania melanjutkan, lebih tepatnya Suster Maria. Ketika Shania memutuskan mengambil kaul kemurnian, ketaatan dan kemiskinan, ia memilih nama Maria Goretti, simbolik pelindung kesucian para korban pemerkosaan.

Aku mengangguk, mengerti dan mengetahuinya. Tapi cintamu pada Tuhanmu mengalahkan cintamu padaku, pikirku. Aku memperhatikan anak remaja yang sedang bercengkarama dengan cerianya.

“Karena cintaku padamu lah aku memilih hidup ini.” Aku tak habis pikir bagaimana sebenarnya jalan pikirannya, apa yang sebenarnya ingin diungkapkannya.

“Kau tahu masa laluku, kau menerimaku apa adanya. Kau yang membangkitkan aku dari masa kelamku.” Aku menatapnya, tidak ada ketakutan dan kejijikan lagi dalam warna wajahnya. Dahulu menceritakannya saja dia tak mau. Yang ada kini wajah kedamaian.

“Tapi kau lihat anak-anak itu? Mereka masih sangat remaja untuk mengalami hal demikian. Dan terkadang orang-orang terdekat merekalah yang merusak masa depan mereka. Itu lebih menyakitkan lagi. Aku ingin berbagi bersama mereka, membangkitkan mereka dari keterpurukannya. Menyalurkan cinta yang kudapat darimu kepada mereka. Itulah tugasku, panggilanku.” Suaranya tenang dan lembut namun tegas mengalir tidak hanya ketelingaku tapi kehatiku.

“Dengan demikian cintamu tak terhenti, cintaku juga tak akan pernah hilang akan mengalir kepada anak-anak ini dan seterusnya kepada semua orang disekelilingnya.” Pada akhirnya dia menatapku, lembut dan penuh pengertian.

“Kau tahu Dario? Aku bersyukur kau hadir dihidupku.” Dia tersenyum, menepuk pelan tanganku yang terkepal di kursi lalu pergi masuk ke biara.

“Kini aku telah berdamai juga dengan cintaku Suster Maria.” Aku bergumam rendah.

Posted in Flash Fiction, Karyaku

Déjà vu

“Aduhh…”

“Molor aja kerja Lo, cung!” Seloroh Dave sambil mengambil duduk disebalah Rasti.

“Sakit tau Dave. Lo emang ye, kagak bisa liat orang menikmati kesenangan sedetikpun.” Jawab Rasti dengan kepala masi diatas meja sambil mengelus-elus bagian kepala yang tadi ditimpuk Dave dengan buku.

“Ya kali sedetik! Udah sejam Lo tidur. Woi, Lo tu cewek!! Gak ada malunya tidur di perpus.”

“Sejak kapan ada larangan kalo ‘cewek dilarang tidur di perpus’? haa?”

“Ngomong ama Lo emang susah ye. Eh malah tidur lagi! Bangun woy, udah maghrib. Pulang gih, lanjut tidur di kost.”

“Malas ah. Udah pewe. Entar aja, perpus juga tutup masi 2 jam lagi.”

“Ya, Owoohh.. Rasti, gemes gue ama sifat cuek Lo. Bolos kuliah seharian ternyata tidur di perpus. Bangun gak Lo, kalo ga….”

“Kalo gak apa?”

“Kalo gak, gue bakal cium Lo!”

“Ah..” Rasti merapikan rambutnya yang menjuntai didepan hidungnya sambil melanjutkan tidurnya “kaya Lo berani….” Belum selesai Rasti menyelesaikan kata-katanya, matanya langsung terbuka lebar.  Sesuatu baru saja mencium pipinya.

“Lo berani-beraninya….” Rasti sudah siap ngamuk-ngamuk .  “Arghhhhh…”

“Molor aja kerja lo, cung!” Seloroh Dave sambil mengambil duduk disebalah Rasti.

Rasti bingung.

“Woi, kenapa Lo? Kok bengong? Terpana dengan kegantengan gue? Sadar woy.. udah bangun lom?? Seru Dave sambil mengibas-ibaskan tangan ke depan wajah Rasti.

“Loh? Kok? Kenapa bisa..?” Rasti mengelus kepalanya yang terasa sedikit nyeri dan pipinya yang tadi berasa..

“Kenapa bisa gue disini? Tadi ada malaikat nyuruh gue kesini, nyuruh bangunin Lo!” jawab Dave usil sambil tertawa “Tadinya kalo Lo gak bangun pas gue timpuk, gue mau..”

“Eh..Gue mau pulang sekarang.” Seru Rasti, buru-buru pergi sebelum semuanya terulang lagi..

Dave hanya tersenyum simpul sambil mengikuti Rasti dari belakang yang berjalan dengan kikuknya.

Posted in Flash Fiction, Karyaku

Bride

Aku melangkah dari pintu gereja dengan gaun putih, berpotongan pendek, dengan heels yang sangat pas dikakiku. Aku terburu-buru. Menggengam kotak kecil ditangan kananku. Sementara aku melirik ke sekitar. Semua melihat kearahku  yang melangkah dengan langkah-langkah lebar.

“Ini lex.” Kataku sambil menunjukkan kotak mungil ditanganku. Semua sudah beres, aku memasang mimik wajah yang optimis lalu kembali ke tempat duduk umat. Aku lupa membawa cincin pernikahan, padahal akulah orang yang bertugas untuk memberi cincin ini nantinya kepada kedua pengantin. Aku memang suka teledor.

Ketika nafasku sudah stabil. Terdengar suara piano mengalun lembut, disambut dengan sorang wanita berparas cantik dan bertudung dengan tangan kanan memegang sebuket bunga, dan tangan kiri mengamit lengan seorang pria tua, ayahnya.

Aku kembali teringat akan pernikahanku setahun yang lalu. Keadaannya hampir mirip dengan ini. Lantunan lagu piano yang sama, diiringi oleh ayahku. Saat melangkah ke altar melihat senyuman sanak saudara dan teman-teman adalah saat-saat yang sangat mendebarkan, serasa jarak 25 meter itu adalah 100 km.

Namun ada satu perbedaan, posisi Nila dan aku terbalik. Saat itu akulah yang menjadi pengantin sedangkan Nila adalah bride maidnya. Namun satu kesamaan lagi adalah pria yang akan diambil janjinya juga adalah Alex.

“Aaaaa…” seketika suara lantunan piano yang terdengar berubah menjadi teriakanku.

“Ada apa Ven?” Tanya Alex keluar dari kamar begitu mendengar aku teriak.

“Mati lampu. Padahal aku kan sedang nonton.”

“Ya ampun Ven, kamu udah berapa kali nonton film kita itu sih? Gak bosan apa?” Seloroh Alex sambil balik ke kamar, tak peduli.

Posted in Flash Fiction, Karyaku

Sebuket Mawar

Bingung. Sudah tiga hari berturut-turut aku menemukan sebuket bunga mawar plus kartu ucapan singkat di meja kerjaku. Awalnya sih aku tidak menggubris sama sekali. Menurutku tindakan seperti ini terlalu kolot. Kalau suka bilang aja langsung. Kenapa harus sembunyi-sembunyi.

Senyumlah selalu, Karna senyummu begitu manis.  Itu ucapan dihari pertama. Jadul banget kan? gigi bisa kering bro, bibir juga pegel kali. Tapi yah peduli amat ama kartu ucapannya. Bunganya lumayanlah untuk hiasan meja kerja yang penuh dengan berkas-berkas yang harus diaudit.

Ucapan kedua, yah bisa dibilang lumayan lah. Kemarin kamu cantik banget, sayang aku hanya bisa mengagumi kecantikanmu dari jauh. Well, kedengarannya sih cheesy tapi cewek mana sih yang gak suka dipuji apalagi dibilang cantik. Bohong banget kalo bilang gak suka.

Dan kali ini aku merasa ucapannya sangat keterlaluan. Aku harus tahu siapa yang bertindak konyol seperti ini. Emang dikira romantis apa ya tindakannya ini? Gak sama sekali.

***

Hari ini aku sengaja datang ke kantor lebih pagi dari biasanya, ingin melihat siapa yang menaruh bunga di meja kerjaku. Biar aku damprat sekalian.

“Mas Boim?” Aku bingung antara percaya tak percaya.

“Eh mba Nisa. Pagi mba.” Jawab Mas Boim, OB dikantor ini, salah tingkah sambil meletakkan bunga mawar yang belum sempat ditaruh di mejaku.

“Jadi mas yang selama ini…”

“Bukan mba, maaf mba, mba salah faham.”

“Terus siapa? Jelas-jelas mas Boim yang mau ngeletakin bunga itu.”

“Saya cuma disuruh mba.. maaf saya permisi dulu ya.” Sepertinya dia tidak nyaman dalam situasi disudutkan olehku.

Kenapa kemarin Jutek mulu? Tar cantiknya ilang lho… Ya ampun, Nih orang bener-bener ngeselin. Gak sadar apa, kemarin aku kesel gara-gara kartu ucapannya. Pagi-pagi udah bikin bad mood aja. Kali ini kesabaranku sudah habis.

Aku menyusul mas Boim ke pantry, kakiku terhenti ketika mendengar mas Boim berbicara. Sepertinya sedang menelepon. “Iya Pak Joko, hari ini saya udah taruh bunganya seperti biasa di meja mba Nisa. Tapi..”

Aku langsung pergi. Tahu apa kelanjutan dari pembicaraan tersebut. Frustrasi. Seorang Manajer keuangan, berusia 40an, memiliki dua orang anak. Gak sadar umur apa? Malu tuh sama anak dan istri di rumah, masih sempet-sempetnya ngelirik yang lain.

Mengambil tas lalu buru-buru keluar kantor. Melajukan kemudi mobil secepatnya. Sebelum ada yang melihatku ke kantor. Aku mau menenangkan pikiran. Malas banget kalo sampe ketemu sama si tua itu.

***

“Kenapa gak bilang langsung aja sih, kalo kamu naksir dia. Gak mungkinlah dia nolak kamu. Seorang GM.”

“Yang penting si mas Boim belum sempet bocorin kan om? Biarin aja, aku senang liat tingkahnya. Moodnya naik turun. Waktu aku bilang dia cantik, dia sumringah terus. Eh besoknya pas aku bilang, dia sepertinya gendutan. Satu harian jutek mulu. lucu om. Biar dulu, aku masi pengen menikmati tingkahnya.” Balas seseorang bermata biru, turunan dari ibunya.

“Ah kamu ini terserah lah.” Pak Joko memutuskan sambungan telepon dengan anak sahabat karibnya itu yang sudah ia anggap sebagai anak sendiri. Begitu Boim ngelapor kalau Nisa hampir saja tahu, dia langsung buru-buru nelepon Teo. Tapi dasar anak muda.