Pengabdian seorang Guru

Bagaimana sih guru yang berkualitas baik itu? Saya rasa jika pertanyaan ini ditanyakan, mungkin akan ada banyak jawaban yang terlontar. Terkadang akan ada yang menilai secara subjektif, bahwa guru yang berkualitas adalah guru yang cara mengajarnya bisa ia terima. Namun masing-masing guru memiliki gaya khasnya sendiri dalam mengajar, siswa juga memiliki tingkat kecerdasan tersendiri dalam menerima pengajaran yang diberikan. Suatu cara dalam mengajar mungkin bisa diterima oleh sebagian siswa tapi oleh sebagian siswa lagi belum tentu dapat diterima.

Saya menilai kualitas guru adalah dengan bagaimana ia mengabdi, bagaimana cara ia mencintai profesinya. Ketika ia mencintai profesinya maka pengabdiannya akan seluruhnya diberikan pada siswa-siswanya, akan dilakukan yang terbaik yang mampu dilakukannya.

Saya memiliki seorang guru, yang sampai sekarang tetap saya kenang. Kalau dari metode atau cara mengajar, beliau bukanlah guru terfavorit saya. Namun yang membuat saya terkesan dan mengenang beliau sampai sekarang adalah bagaimana dedikasinya dan cintanya terhadap kami siswanya.

Beliau adalah seorang guru yang patut diacungi jempol, kita -dunia pendidikan Indonesia- butuh seseorang yang seperti beliau. Ia adalah guru bahasa Indonesia saat saya duduk di bangku sekolah atas. Saat saya berada dikelas tiga, saat Ia mengajar tiba-tiba beliau jatuh pingsan. Ternyata selama ini beliau mengidap penyakit (Saya lupa apa) parah. Ketika ia mengajar, tidak pernah sekalipun beliau menunjukkan penderitaannya. Ia dikenal dengan sifat lucunya, sering kali ia bercanda sehingga membuat siswa-siwa akrab dengannya.

Saat itu masa-masa mendekati Ujian Nasional, sementara pihak sekolah belum mendapatkan seorang guru yang bisa menggantikannya. Ia masih saja mengajar kami dengan ceria sambil menunggu ada guru yang dapat menggantikannya mengajar.

Ketika Ia sudah tidak lagi mengajar, ia tetap berhubungan dengan kami. Ia sering bertanya bagiamana persiapan kami menghadapi UN. Ketika kami datang kerumah untuk menjengguk, senyum khas dan candaannyapun tak hilang. Ia juga tak lupa memberi kami wejangan dan semangat untuk mempersiapkan UN dan SNMPTN.

Ketika kami lulus semua, beliau mengucapkan selamat dan ikut bergembira. Kemudian kami melanjutkan kuliah kami masing-masing. Sampai akhirnya belum genap satu semester kami memasuki dunia kampus, ada berita bahwa beliau telah meninggal dunia.

Bagi semua guru, pengabdianmu adalah yang terbaik bagi kami muridmu. Guru memang pahlawan tanpa jasa. Tanpamu apalah jadinya kami? Tak bisa baca tulis, tak bisa menghitung, dunia kami akan gelap gulita. Terimakasih telah menjadi kunci dari jendela cakrawala kami.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s